Jam menunjukkan 01.47 dini hari. Bayi gue akhirnya tidur setelah drama gumoh dan popok bocor dua kali. Dan apa yang gue lakukan? Bukannya ikut merem, gue malah buka HP dan scroll berita. Satu judul, dua judul, eh tahu-tahu udah jam dua lewat. Besok paginya, gue bangun dengan mata perih dan mood yang jelek banget. Kalau kamu orang tua baru, kayaknya kamu pernah ada di posisi gue.
Ini bukan cerita sekali dua kali. Ini pola yang gue jalanin hampir tiap malam selama tiga bulan pertama setelah anak pertama lahir. Dan pelajaran yang gue dapat dari pengalaman itu cukup mahal: cara kita mengonsumsi berita waktu jadi orang tua baru itu beda total dengan waktu masih lajang. Dulu gue bisa scroll berita sejam tanpa efek apa-apa. Sekarang? Sejam scroll berita sama dengan satu hari penuh jadi zombie.
Baca juga: AACTA Akademi Seni Perfilman dan Televisi Australia
Kenapa Berita di Tengah Malam Itu Jebakan
Gue inget banget malam ketika gue baca satu berita soal kasus kekerasan yang melibatkan anak. Berita itu nempel di kepala gue selama berhari-hari. Tiap kali gue lihat anak gue tidur, yang kebayang malah isi berita itu. Padahal anak gue baik-baik aja, tapi otak gue udah jalan ke mana-mana.
Ini yang gue sadari belakangan: jadi orang tua baru itu bikin radar ancaman kita nyala terus. Wajar aja, karena kita lagi belajar jaga manusia kecil yang belum bisa jaga diri sendiri. Masalahnya, berita yang kita konsumsi sering kali isinya justru hal-hal yang bikin radar itu makin sensitif. Hasilnya? Kita jadi gampang cemas, gampang panik, dan susah tidur.
Dan jangan lupa, tidur itu bukan kemewahan buat orang tua baru. Tidur itu kebutuhan dasar yang sering kita korbankan duluan. Setiap jam tidur yang hilang gara-gara scroll berita itu utang yang harus dibayar besok, dan besoknya kita masih harus gendong bayi, nyiapin susu, dan tetap waras.
"Gue kira masalahnya kurang tidur gara-gara bayi. Ternyata setengahnya gara-gara gue sendiri yang nggak bisa lepas dari HP."
Dulu vs Sekarang: Cara Gue Baca Berita Berubah Total
Sebelum punya anak, gue tipe orang yang update berita tiap jam. Pagi buka portal, siang cek timeline, malam nonton debat atau liputan. Gue ngerasa keren karena selalu tahu isu terbaru. Sekarang, kalau gue lakuin itu, yang ada gue jadi orang tua yang gampang emosi dan susah fokus.
Perubahan paling besar bukan di jumlah berita yang gue baca, tapi di kapan dan kenapa gue baca. Dulu gue baca berita buat hiburan dan biar nggak kudet. Sekarang gue baca berita buat tahu hal yang benar-benar berpengaruh ke keluarga gue, misalnya info vaksin, aturan cuti, atau berita lokal soal fasilitas kesehatan. Sisanya? Bisa gue lewatin tanpa rasa bersalah.
Gue juga belajar misahin dua hal yang dulu gue anggap sama: informasi dan konsumsi emosional. Banyak berita yang kita scroll tiap malam itu sebenarnya bukan buat kita jadi lebih tahu, tapi buat kita ikut merasa. Sensasi, kemarahan, kekhawatiran. Buat orang tua baru yang energi mentalnya udah tipis, konsumsi kayak gini itu mahal banget harganya.
Aturan Main yang Gue Terapkan Sekarang
Gue nggak bilang gue udah sempurna. Masih ada malam-malam di mana gue kelepasan scroll. Tapi setidaknya sekarang gue punya pagar-pagar yang bikin gue lebih jarang jatuh ke lubang yang sama.
- Berita cuma dibaca pagi dan siang. Setelah jam 8 malam, HP gue masuk mode fokus. Nggak ada scroll berita, nggak ada notifikasi judul heboh.
- Satu sumber, bukan sepuluh. Gue pilih dua portal berita yang gue percaya dan cukup baca dari situ. Nggak perlu ikut semua drama.
- Cek rasa sebelum lanjut baca. Kalau judulnya bikin dada gue sesak, gue skip. Bukan berarti gue nggak peduli, tapi gue sadar kapasitas emosi gue terbatas sekarang.
- Ganti scroll dengan hal yang benar-benar ngisi. Kadang gue ganti dengan baca artikel soal pengasuhan, atau sekadar dengerin podcast ringan sambil nyusuin.
Pelajaran yang Paling Nempel Sampai Sekarang
Ada satu hal yang gue sesali: waktu tiga bulan pertama anak gue, gue terlalu banyak habisin energi buat hal-hal yang nggak bisa gue kontrol. Berita soal politik, konflik, bencana di tempat jauh. Semua itu penting buat diketahui, tapi nggak semuanya perlu masuk ke kepala gue jam dua pagi.
Yang gue pelajari, jadi orang tua baru itu soal memilih. Energi kita sekarang jadi barang langka. Setiap kali kita buka berita, kita lagi belanja pakai energi itu. Kalau barangnya bikin kita tenang dan lebih siap, beli. Kalau bikin kita gelisah tanpa solusi, mending tinggalin dulu.
Gue juga belajar bahwa berita itu bukan cermin realitas yang netral. Yang dipilih buat tampil biasanya yang paling bikin orang klik, dan itu sering kali yang paling bikin cemas. Buat orang tua baru yang radar ancamannya udah nyala, ini kombinasi yang nggak sehat. Kita perlu sadar bahwa dunia yang kita lihat di layar itu versi yang udah dikurasi, bukan potret utuh.
Kalau kamu lagi di fase awal jadi orang tua dan ngerasa tiap malam susah lepas dari HP, coba deh satu minggu tanpa scroll berita setelah jam sembilan. Rasain bedanya. Mungkin nggak langsung kerasa di hari pertama, tapi di hari keempat atau kelima, kamu bakal sadar ada ruang di kepala yang tadinya penuh sama hal-hal yang bukan urusan kamu.
Anak kamu nggak butuh orang tua yang selalu update berita. Anak kamu butuh orang tua yang hadir, yang matanya nggak sayu karena begadang nonton judul, dan yang bisa ketawa lepas tanpa kebayang isi berita serem yang tadi dibaca. Gue belajar ini dengan cara yang agak telat, tapi setidaknya sekarang gue tahu bedanya: scroll sampai jam dua pagi itu bukan tanda peduli, itu cuma kebiasaan yang kebetulan kelihatan produktif.